MOJOKERTO — Masa bakti kepengurusan OSIM MA Nurul Islam Mojokerto periode 2024–2026 resmi memasuki penghujung perjalanan. Dua tahun masa kepengurusan menjadi ruang bagi para siswa untuk belajar mengenai tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, hingga pengabdian melalui berbagai kegiatan di lingkungan madrasah.
Ketua OSIM MA Nurul Islam Mojokerto masa bakti 2024–2026, Raka Anang Arkana Putra, mengatakan bahwa kepemimpinan yang dijalankan selama dua tahun tersebut memberikan pengalaman berharga. Baginya, menjadi pemimpin bukan sekadar menjalankan sebuah jabatan, tetapi juga belajar bertanggung jawab, mendengarkan orang lain, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan atau posisi di depan. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana seseorang mampu bertanggung jawab, mau mendengarkan, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Dalam lingkungan madrasah, kepemimpinan juga dimaknai sebagai khidmah atau pengabdian. Jabatan memiliki batas waktu, sementara nilai dan manfaat dari pengabdian diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Atas dasar pemikiran tersebut, OSIM MA Nurul Islam menghadirkan konsep Pemilihan Raya Integratif pada akhir masa bakti 2024–2026. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai proses pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIM, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bagi siswa.
Pemilihan Raya Integratif menggabungkan tiga nilai utama, yakni demokrasi, ilmu, dan kemandirian.
Nilai demokrasi diwujudkan melalui debat kandidat dan proses pemilihan yang dibuat menyerupai pelaksanaan pemilu, lengkap dengan Tempat Pemungutan Suara (TPS), bilik suara, serta saksi dari masing-masing pasangan calon.
Melalui proses tersebut, para siswa mendapatkan pengalaman untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan gagasan yang berbeda, serta belajar menerima hasil pemilihan dengan sikap dewasa.
Debat kandidat juga diarahkan bukan sebagai ruang untuk saling menjatuhkan, melainkan sebagai sarana bagi para calon untuk menyampaikan gagasan, program kerja, dan kesiapan mereka dalam menjalankan amanah kepemimpinan.
Selain demokrasi, unsur keilmuan dihadirkan melalui kegiatan Bahsul Masail bersama MDTW Nuris 2. Kegiatan tersebut membahas tema Hukum Salat serta Macam-Macam Najis dan Cara Bersuci.
Bahsul Masail menjadi ruang bagi siswa untuk belajar menyampaikan pendapat berdasarkan ilmu, memahami adanya perbedaan pandangan, serta melihat bahwa suatu persoalan membutuhkan pemahaman dan ketelitian.
Kepala MDTW Nuris 2, Ust. Gusti Agung Cahyono, M.H., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi awal kolaborasi antara OSIM MA Nurul Islam dan MDTW Nuris 2. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi para siswa.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, seperti tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Nilai-nilai tersebut mendorong siswa untuk menghadapi perbedaan dengan ilmu, keseimbangan, toleransi, dan keadilan.
Sementara itu, aspek kemandirian diwujudkan melalui Bazaar Kewirausahaan yang melibatkan perwakilan dari setiap kelas.
Bazaar tersebut bukan merupakan bagian dari kampanye pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua OSIM. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi siswa, mulai dari mengatur modal, mengelola usaha, melakukan promosi, memberikan pelayanan, hingga membangun kerja sama.
Bagi siswa kelas XII, kegiatan tersebut juga menjadi bekal menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah. Kemandirian tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga keberanian mengambil keputusan, melihat peluang, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Di penghujung masa kepengurusan, Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan, Bapak Moh. Gufron, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pengurus OSIM masa bakti 2024–2026 atas pengabdian yang telah diberikan.
Sementara itu, Kepala Madrasah, Ibu Maria Ulfa, M.Pd., memberikan harapan agar kepengurusan berikutnya dapat membawa OSIM menjadi lebih baik.
Pesan tersebut menjadi bagian dari proses estafet kepemimpinan. Pengurus berikutnya tidak harus mengulang seluruh langkah yang telah dilakukan sebelumnya, tetapi dapat mengambil hal-hal baik, memperbaiki kekurangan, dan menghadirkan inovasi baru.
Raka juga menekankan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya merasa dirinya menjadi satu-satunya orang yang dibutuhkan dalam organisasi.
“Seorang leader harus bertanggung jawab dan tidak boleh merasa bahwa dirinya dibutuhkan,” menjadi salah satu prinsip yang dipegang selama menjalankan amanah sebagai Ketua OSIM.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada satu orang. Seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi berikutnya agar organisasi dapat terus berjalan dan berkembang.
Dengan berakhirnya masa bakti 2024–2026, perjalanan OSIM MA Nurul Islam Mojokerto memasuki babak baru. Pergantian kepengurusan menjadi bagian dari proses regenerasi sekaligus kesempatan untuk melanjutkan berbagai hal baik yang telah dibangun sebelumnya.
“Lanjutkan yang baik. Perbaiki yang kurang. Ciptakan yang baru,” menjadi pesan yang ditujukan kepada pengurus OSIM masa bakti berikutnya.
Pergantian kepengurusan pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menggantikan siapa. Lebih dari itu, pergantian menjadi proses bagaimana sebuah amanah terus bergerak dari satu generasi menuju generasi berikutnya.
Jabatan boleh berganti dan nama boleh bergeser, tetapi nilai pengabdian atau khidmah diharapkan tetap menjadi bagian dari perjalanan OSIM MA Nurul Islam Mojokerto.
Nusa Raya Media Indonesia — Mengabarkan, Menginspirasi, dan Menghubungkan Indonesia.



