Lewati ke konten
NUSA RAYA • Media Indonesia
Kampus

Islam dan Gerakan Ekologi: NU dan Muhammadiyah sebagai Guardian of Ecology

Gerakan Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama.

29 pembaca
Bagikan

Malang, — Krisis ekologis yang semakin nyata tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan moral dan spiritual bagi manusia. Persoalan seperti kerusakan hutan, pencemaran sungai, eksploitasi sumber daya alam, hingga perubahan iklim menunjukkan pentingnya membangun kembali hubungan yang lebih etis antara manusia dan alam.

Hal tersebut menjadi perhatian Prof. Dr. Bakhruddin Fannani, MA, Guru Besar Sosiologi Gerakan Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, melalui pidato ilmiahnya berjudul “Rethinking Religion and the Ecological Crisis: Paradigma Eco-Activism Islam dalam Gerakan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai Guardian of Ecology Berkelanjutan di Indonesia.”

Dalam pidatonya, Prof. Bakhruddin Fannani menegaskan bahwa agama memiliki peran penting dalam menghadapi krisis ekologis. Agama tidak hanya menjadi pedoman dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan moral dan sosial untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menjadi contoh penting dalam pembahasan tersebut. Dengan jaringan pesantren, sekolah, komunitas, kader, dan masyarakat akar rumput yang luas, kedua organisasi memiliki potensi besar untuk mengubah nilai-nilai keagamaan menjadi gerakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Di lingkungan NU, semangat menjaga lingkungan terlihat melalui berbagai gerakan seperti FNKSDA, pesantren ekologis, konservasi sumber mata air, penghijauan, pelestarian mangrove, hingga advokasi masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan. Gerakan tersebut menunjukkan bahwa nilai Aswaja dapat diterjemahkan menjadi praksis sosial dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

Sementara itu, Muhammadiyah mengembangkan gerakan ekologis melalui Kader Hijau Muhammadiyah dan Majelis Lingkungan Hidup. Berbagai kegiatan seperti pendidikan lingkungan, pengelolaan sampah, penanaman pohon, konservasi air, kampanye perubahan iklim, hingga pengembangan energi terbarukan menjadi bagian dari upaya memperkuat dakwah yang berorientasi pada keberlanjutan.

Salah satu gagasan penting dalam pidato tersebut adalah pemaknaan kembali teologi Al-Ma’un. Menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari upaya membela masyarakat yang paling rentan terhadap dampak kerusakan ekologis, seperti petani, nelayan, masyarakat miskin, dan komunitas yang kehilangan ruang hidup akibat kerusakan lingkungan.

Melalui gagasan eco-activism Islam, Prof. Bakhruddin Fannani menunjukkan bahwa agama dapat menjadi energi moral, gerakan sosial, dan kekuatan masyarakat sipil dalam menjaga bumi. 

Pada akhirnya, pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya membangun kesadaran bahwa merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. NU dan Muhammadiyah diharapkan dapat terus memperkuat perannya sebagai guardian of ecology, dengan menggabungkan spiritualitas, pendidikan, gerakan masyarakat, dan aksi nyata untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.
Taleema News — Mengabarkan Gagasan, Menginspirasi Perubahan.

Koreksi / Pembaruan

Artikel disusun berdasarkan naskah pidato ilmiah Prof. Dr. Bakhruddin Fannani, MA dan disesuaikan dengan format pemberitaan Taleema News.

Terakhir diperbarui 16 September 2026, 13:52 WIB

Sumber Berita

https://uin-malang.ac.id/id/blog/artikel-5/agama-bukan-penyebab-krisis-lingkungan-guru-besar-uin-malang-tawarkan-paradigma-baru-eco-activism-islam-456

Referensi / Daftar Pustaka

Lynn White Jr., “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis,” Science 155, no. 3767 (1967): 1203–1207, https://doi.org/10.1126/science.155.3767.1203.

Robert W. Hefner, Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia (Princeton: Princeton University Press, 2000), 12–25.

Ahmad Suaedy, “Islam and Environmentalism in Indonesia: Responses and Experiences of the Nahdlatul Ulama,” in Islam and Ecology in Indonesia, ed. Azhar Ibrahim (Singapore: ISEAS Publishing, 2017), 88–103.

Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fikih Air dan Krisis Lingkungan (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015), 15–28.

Richard C. Foltz, Frederick M. Denny, and Azizan Baharuddin, eds., Islam and Ecology: A Bestowed Trust (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2003), 1–18.

Carolyn Merchant, The Death of Nature: Women, Ecology, and the Scientific Revolution (San Francisco: Harper & Row, 1980), 1–28.

Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 1997), 17–29.

Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 3–15.

Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an: Semantics of the Qur’anic Weltanschauung (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2002), 89–104.

Fazlun Khalid, Signs on the Earth: Islam, Modernity and the Climate Crisis (Leicestershire: Kube Publishing, 2019), 41–58.

Seyyed Hossein Nasr, The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: Allen & Unwin, 1968), 96–112.

M. Faizin, “Religious Environmentalism and Grassroots Islamic Movements: The Emergence of FNKSDA in Contemporary Indonesia,” Al-Jami‘ah: Journal of Islamic Studies 61, no. 2 (2023): 341–366, https://doi.org/10.14421/ajis.2023.612.341-366.

Syamsul Arifin, Abul Ma’ali, Moh. Anas Kholish, dan In’amul Musoffa, Jihad Ekologis Kaum Bersarung: Melawan Eksploitasi, Meneguhkan Green Constitution (Malang: Pustaka Peradaban, 2023), 20–61.

Bakhruddin Fannani, “The Theological Imperative of Marine Ecosystem Conservation via Mangrove Forest Preservation: A Study of the Social Construction of Kyai Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah,” KARSA: Journal of Social and Islamic Culture 32, no. 1 (2024): 1–28, https://doi.org/10.19105/karsa.v32i1.10537.

Ahmad Imron Rozuli, Moh. Anas Kholish, Ahmad Wasito, dan Abd. Rahman Ambo’ Dalle, “Menakar Potensi Lokalitas Tasawuf sebagai Gerakan Penghijauan yang Mekanik dalam Islam di Jawa Timur,” Jurnal Sosiologi Agama 7, no. 2 (2024): 147–160, https://doi.org/10.14421/jsa.2024.072-08.

Ali Maksum dan Moh. Anas Kholish, “Islamic Eco-Theology and Mangrove Conservation Movement in Coastal Java,” Jurnal Penelitian 21, no. 1 (2023): 77–95, https://doi.org/10.28918/jupe.v21i1.7312.

Noorhaidi Hasan, “Pesantren, Environmental Ethics, and Green Islam in Contemporary Indonesia,” Indonesia and the Malay World 51, no. 149 (2023): 92–108, https://doi.org/10.1080/13639811.2023.2177421.

“PW Muhammadiyah DIY Persilakan Kader Kritik soal Tambang: Koridor Konstruktif,” Detik Jogja, July 30, 2024.
Hilman Latief, “Islamic Philanthropy and the Politics of Benevolence in Indonesia,” Southeast Asian Studies 10, no. 1 (2021): 1–19, https://doi.org/10.20495/seas.10.1_1.

Abdul Mu’ti, “Islam Berkemajuan dan Krisis Ekologi: Membaca Ulang Teologi Al-Ma’un di Era Antroposen,” Jurnal Maarif 18, no. 2 (2023): 45–63.

Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 137–145.

Bakhruddin Fannani, “Aswaja and Al-Ma’un Theology in Brantas River Preservation: Local Muslim Environmental Activism and Indonesia’s Green Constitution,” Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam 13, no. 2 (2025): 233–258, https://doi.org/10.15642/teosofi.2023.13.2.233-258.

Fathurrahman Kamal dan Ahmad Muttaqin, “Green Activism among Young Muhammadiyah Cadres in Indonesia,” Al-Jami‘ah: Journal of Islamic Studies 62, no. 1 (2024): 115–138, https://doi.org/10.14421/ajis.2024.621.115-138.

Alit Rosad Nurdin, Moh. Idrus, dan Robi Permana, “Strategi Dakwah Lingkungan Kader Hijau Muhammadiyah,” Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan 4, no. 6 (2024): 958–969, https://doi.org/10.36418/syntax-imperatif.v4i6.376.

Hendy Setiawan, Nanang Indra Kurniawan, dan Purwo Santoso, “The Ecotheological Movement of the Muhammadiyah Environmental Council in Response to the Environmental Governance Crisis,” Millah: Journal of Religious Studies 21, no. 3 (2022): 639–670, https://doi.org/10.20885/millah.vol21.iss3.art6.

Hendy Setiawan et al., “Pioneering Youth Movement: Pandawara Group and Kader Hijau Muhammadiyah in Advocating for Ecological Justice in Indonesia,” Madani: Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan 16, no. 2 (2024): 201–219, https://doi.org/10.52166/madani.v16i2.5703.

Baca Juga

Taleema News

Reporter/kontributor Taleema News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *