Lewati ke konten
NUSA RAYA • Media Indonesia
Pendidikan

Pelatih Pembina Pramuka Dituntut Adaptif terhadap Karakter Generasi dan Transformasi Teknologi

Pitaran Pelatih Batch II Pusdiklatcab Macan Putih Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banyuwangi.

113 pembaca
Bagikan

Banyuwangi, 26 September 2026 – Perubahan karakter generasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat menjadi tantangan penting bagi para pelatih pembina Pramuka dalam menjalankan fungsi pendidikan dan pelatihan. Pelatih Pembina Pramuka pada masa kini tidak cukup hanya menguasai materi kursus, teknik kepelatihan, dan metode kepramukaan, tetapi juga perlu memiliki kemampuan membaca perubahan sosial, memahami karakter peserta didik lintas generasi, serta menyesuaikan pendekatan pendidikan dengan perkembangan zaman. Pemikiran tersebut mengemuka dalam kegiatan Pitaran Pelatih Batch II Pusat Pendidikan dan Pelatihan Cabang (Pusdiklatcab) Macan Putih Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banyuwangi yang dilaksanakan pada Sabtu, 26 September 2026.

Kegiatan yang dipusatkan di Auditorium Gugus Depan MTsN 5 Banyuwangi, Kecamatan Cluring, tersebut diikuti oleh 43 pelatih pembina Pramuka dari wilayah Banyuwangi Selatan. Pitaran ini tidak hanya dirancang sebagai forum pertemuan rutin antarpelatih pembina Pramuka, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas, memperluas wawasan, dan membangun kesamaan cara pandang dalam menghadapi dinamika pendidikan kepramukaan. Bagi para pelatih pembina Pramuka, forum semacam ini penting karena kualitas proses pendidikan di gugus depan tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang terlebih dahulu membentuk dan mengembangkan kompetensi para pembina.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Pusdiklatda Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Kak Dr. Jainudin, hadir secara virtual dan memberikan penguatan kepada para peserta. Beliau menekankan bahwa lingkungan pendidikan yang dihadapi saat ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar. Peserta didik tumbuh dalam situasi sosial, budaya, informasi, dan teknologi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Perubahan tersebut memengaruhi cara mereka berkomunikasi, belajar, menerima informasi, membangun relasi, dan merespons berbagai pengalaman pendidikan. Karena itu, pelatih pembina Pramuka harus mampu menyesuaikan strategi pendidikan tanpa kehilangan nilai dasar dan karakter utama Gerakan Pramuka.

Sebagai pelatih pembina Pramuka, saya melihat bahwa perbedaan antargenerasi tidak semestinya dipahami hanya sebagai perbedaan usia. Di dalamnya terdapat perbedaan pengalaman sosial, pola komunikasi, kebiasaan belajar, cara memanfaatkan teknologi, serta cara memandang lingkungan sekitarnya. Generasi milenial, generasi Z, hingga generasi Alpha memiliki ciri dan kebutuhan yang tidak sepenuhnya sama. Kondisi tersebut menuntut para pelatih pembina Pramuka untuk memiliki kepekaan pedagogis yang lebih baik agar mampu memilih pendekatan, metode, dan bentuk komunikasi yang relevan dengan karakter peserta. Di titik inilah kemampuan pelatih pembina Pramuka diuji, bukan sekadar dalam menyampaikan materi, tetapi dalam menerjemahkan nilai kepramukaan ke dalam pengalaman pendidikan yang bermakna.

Kak Dr. Jainudin dalam arahannya juga mengingatkan bahwa pelatih pembina Pramuka perlu memiliki kemampuan mengorkestrasi perbedaan karakter generasi dalam satu proses pendidikan. Setiap generasi membawa kekhasan masing-masing, sementara pelatih pembina Pramuka harus mampu mempertemukan kekhasan tersebut dengan prinsip dasar dan metode kepramukaan. “Pelatih Pembina Pramuka hari ini memiliki tantangan untuk mampu mengorkestrasi peserta didik yang berasal dari generasi yang berbeda, mulai generasi milenial, generasi Z hingga generasi Alpha. Setiap generasi memiliki karakter yang sangat khas. Karena itu, pelatih pembina Pramuka harus terus bertumbuh dan mampu beradaptasi dengan teknologi,” tegas Kak Dr. Jainudin dalam arahannya.

Bagi saya, adaptasi terhadap teknologi juga perlu dipahami secara proporsional. Teknologi bukan tujuan utama dalam proses pendidikan kepramukaan, melainkan salah satu instrumen yang dapat membantu proses belajar menjadi lebih efektif, komunikatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Penggunaan perangkat digital, media pembelajaran, dan berbagai platform informasi tetap harus ditempatkan dalam kerangka pendidikan yang benar. Kepramukaan memiliki kekuatan pada pengalaman langsung, keteladanan, kerja kelompok, kepemimpinan, keterampilan hidup, pengabdian, dan pembentukan karakter. Karena itu, teknologi semestinya memperkuat proses tersebut, bukan justru menggantikan interaksi pendidikan yang menjadi ruh kepramukaan.

Hal penting lain yang ditekankan dalam forum ini adalah orientasi terhadap dampak. Pendidikan dan pelatihan tidak boleh berhenti pada terselenggaranya kursus, selesainya administrasi, atau diterimanya sertifikat oleh peserta. Hasil sesungguhnya justru baru terlihat ketika peserta kembali ke gugus depan dan mampu menerapkan apa yang telah diperoleh selama proses pelatihan. Pelatih Pembina Pramuka memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk memastikan bahwa setiap proses pendidikan benar-benar menghasilkan perubahan pada kemampuan, sikap, kepemimpinan, dan kualitas pengabdian peserta. Dengan cara pandang ini, keberhasilan pelatihan tidak diukur semata-mata dari jumlah kegiatan, tetapi dari keberlanjutan manfaat setelah kegiatan selesai.

Gugus depan menjadi ruang paling nyata untuk menguji kualitas tersebut. Di sanalah seorang pembina berhadapan langsung dengan peserta didik, merancang kegiatan, menanamkan nilai, mengembangkan keterampilan, membangun kepemimpinan, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Karena itu, kualitas pelatih pembina Pramuka akan memengaruhi kualitas pembina, sedangkan kualitas pembina akan memengaruhi kualitas proses pendidikan di gugus depan. Rantai mutu seperti inilah yang perlu dipahami bersama agar pendidikan dan pelatihan tidak diposisikan sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai bagian dari sistem pembinaan sumber daya manusia Gerakan Pramuka.

Arah tersebut juga memiliki keterkaitan dengan berbagai program pengembangan Gerakan Pramuka di Jawa Timur, termasuk dorongan agar setiap gugus depan mampu melahirkan produk inovatif yang memberikan dampak. Gagasan satu gugus depan satu produk inovatif, misalnya, dapat dipahami sebagai upaya membangun budaya produktif dan kreatif dalam lingkungan pendidikan kepramukaan. Gugus depan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan rutin, tetapi dapat dikembangkan sebagai ruang lahirnya gagasan, karya, dan program yang menjawab kebutuhan peserta didik maupun masyarakat. Dalam konteks ini, pelatih pembina Pramuka perlu mendorong pembina agar berani berinovasi tanpa meninggalkan prinsip dan identitas Gerakan Pramuka.

Pitaran Pelatih Batch II ini juga dihadiri oleh Andalan Binawasa Kwarcab Banyuwangi Kak Kusno Abhiwibowo, unsur Pusdiklat yang diwakili H. Rozikon, jajaran pengurus Pusdiklatcab Macan Putih, serta para pelatih pembina Pramuka dari wilayah Banyuwangi Selatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kualitas pelatih pembina Pramuka tidak dapat dilakukan secara individual. Diperlukan dukungan kelembagaan, sinergi antarpengurus, serta ruang belajar yang memungkinkan para pelatih pembina Pramuka saling berbagi pengalaman dan memperbarui pengetahuan. Dalam organisasi pendidikan, kualitas individu akan lebih mudah berkembang jika ditopang oleh sistem yang juga memiliki budaya belajar.

Dalam sesi yang saya sampaikan, perhatian diarahkan pada pentingnya memperluas cara pandang pelatih pembina Pramuka terhadap perkembangan kepramukaan, baik pada tingkat lokal maupun global. Para pelatih pembina Pramuka perlu memahami bahwa Gerakan Pramuka merupakan bagian dari gerakan kepanduan dunia yang memiliki perhatian terhadap pendidikan karakter, kepemimpinan, lingkungan, kemanusiaan, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan. Wawasan global dibutuhkan bukan untuk menjauhkan pelatih pembina Pramuka dari persoalan lokal, tetapi justru untuk memperkaya perspektif sehingga program yang dikembangkan di gugus depan memiliki relevansi yang lebih luas dan mampu merespons isu-isu kontemporer.

Salah satu hal yang diperkenalkan kepada peserta adalah keterhubungan dengan berbagai platform kepramukaan dunia, termasuk Scout for SDGs. Melalui pendekatan seperti ini, kegiatan kepramukaan dapat dikembangkan menjadi bagian dari upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, baik dalam bidang pendidikan, lingkungan, sosial, kemanusiaan, maupun penguatan masyarakat. Bagi pelatih pembina Pramuka, pemahaman ini penting karena menunjukkan bahwa pendidikan kepramukaan tidak berdiri di ruang yang terpisah dari kehidupan sosial. Apa yang dilatih dan dibiasakan kepada peserta seharusnya memiliki hubungan dengan persoalan nyata yang ada di tengah masyarakat.

Saya juga menekankan bahwa peningkatan kapasitas pelatih pembina Pramuka pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan mutu proses pendidikan dan kualitas lulusan kursus. Pelatih Pembina Pramuka tidak cukup hanya mampu menyelenggarakan kegiatan secara teknis. Lebih dari itu, pelatih pembina Pramuka harus memiliki kesadaran bahwa setiap proses yang dijalankan akan memengaruhi kualitas peserta setelah kembali menjalankan tugas di satuan masing-masing. “Pelatih Pembina Pramuka tidak cukup hanya mampu menyelenggarakan kursus. Pendidikan dan pelatihan yang kita kelola harus menghasilkan lulusan yang berkualitas, mampu bergerak di gugus depan, sekaligus menjadi energi besar bagi Gerakan Pramuka di Kwartir Cabang Banyuwangi,” menjadi salah satu penegasan yang saya sampaikan dalam forum tersebut.

Bagi saya, pendidikan kepramukaan harus dipahami sebagai proses yang berkelanjutan. Kursus hanyalah salah satu tahapan, bukan garis akhir. Setelah proses pendidikan selesai, peserta masih memiliki tanggung jawab untuk menerapkan, mengembangkan, dan membagikan kompetensi yang telah diperoleh. Karena itu, evaluasi keberhasilan pelatihan juga tidak seharusnya berhenti pada kehadiran, kelulusan, atau pemenuhan administrasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mampu diterapkan dalam program nyata, menghasilkan perubahan, dan memberikan manfaat bagi peserta didik serta lingkungan gugus depan.

Dari perspektif kepelatihan, Pitaran Pelatih Macan Putih Banyuwangi menjadi ruang penting untuk memperkuat kembali kesadaran bahwa pelatih pembina Pramuka adalah pendidik. Posisi pelatih pembina Pramuka sangat strategis karena memiliki tugas mengembangkan kapasitas pembina dan tenaga pendidikan yang secara langsung berinteraksi dengan peserta didik. Dengan posisi seperti itu, pelatih pembina Pramuka tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga harus mampu membangun cara berpikir, sikap profesional, dan orientasi pendidikan pada para peserta kursus. Setiap peningkatan kualitas pelatih pembina Pramuka pada akhirnya akan memberikan pengaruh berantai terhadap kualitas pembina dan mutu pendidikan di gugus depan.

Karena itu, kompetensi pelatih pembina Pramuka harus terus diperbarui. Penguasaan materi kepramukaan perlu berjalan beriringan dengan pemahaman pedagogi, literasi digital, komunikasi lintas generasi, kepemimpinan pendidikan, inovasi program, serta kemampuan membaca perubahan sosial. Pelatih Pembina Pramuka yang hanya mengandalkan pengalaman masa lalu berisiko tertinggal dari perkembangan peserta didik. Sebaliknya, pelatih pembina Pramuka yang terlalu larut pada teknologi tanpa fondasi nilai juga berisiko kehilangan arah. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga keseimbangan antara nilai yang kokoh dengan pendekatan yang terus berkembang.

Penguatan yang diberikan oleh Kapusdiklatda Argasonya dalam kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kesinambungan antara pengembangan pelatih pembina Pramuka di tingkat kwartir cabang dengan arah kebijakan pendidikan dan pelatihan di tingkat kwartir daerah. Kesinambungan tersebut perlu dijaga agar pengembangan sumber daya manusia Gerakan Pramuka berjalan dalam arah yang sama, memiliki standar mutu yang jelas, dan tidak berhenti sebagai program yang berdiri sendiri-sendiri. Pendidikan kepramukaan membutuhkan keterhubungan antara visi, sistem pelatihan, pelaksanaan program, evaluasi, serta implementasi di gugus depan.

Melalui Pitaran Pelatih Batch II ini, kami di Pusdiklatcab Macan Putih Banyuwangi terus mendorong tumbuhnya budaya belajar di kalangan pelatih pembina Pramuka. Pelatih Pembina Pramuka harus bersedia terus memperbarui diri, memahami perubahan karakter generasi, beradaptasi dengan teknologi, memperluas wawasan, dan memperkuat kapasitas kependidikan. Dunia peserta didik terus berubah, sehingga pelatih pembina Pramuka juga tidak dapat merasa selesai dengan pengetahuan yang dimiliki hari ini. Dalam pendidikan, pengalaman memang penting, tetapi pengalaman yang tidak pernah direfleksikan kadang hanya berubah menjadi kebiasaan lama yang dipertahankan dengan sangat percaya diri.

Pada akhirnya, kekuatan pendidikan kepramukaan tidak hanya terletak pada program, kurikulum, atau kelengkapan organisasi, tetapi pada kualitas manusia yang menjalankannya. Pelatih Pembina Pramuka memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan mutu tersebut. Ketika pelatih pembina Pramuka mampu tetap teguh pada nilai kepramukaan, terbuka terhadap perkembangan ilmu, adaptif terhadap teknologi, serta peka terhadap karakter generasi, maka pendidikan kepramukaan akan tetap relevan sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kecakapan hidup, kepedulian sosial, dan pengabdian bagi generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.

 

Penulis: Kak Rofi’udin, M.Pd.

Sekretaris Pusdiklatcab Macan Putih Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banyuwangi

 

 

 

Editor: Kak Dr. Irfan Kuncoro, S.Pd., M.Pd., M.H.

Baca Juga

NUSA RAYA

Reporter/kontributor Taleema News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *