Ketika seseorang patah tulang, tak ada yang bertanya mengapa ia tidak “berpikir positif” saja agar tulangnya menyambung. Tetapi ketika seseorang berkata ia lelah secara batin, cemas tanpa henti, atau kehilangan semangat hidup, jawaban yang sering ia terima adalah: “Kurang bersyukur,” “Kurang dekat dengan Tuhan,” atau “Jangan lebay, semua orang juga punya masalah.” Luka yang tidak berdarah dianggap bukan luka.
Angkanya besar, tetapi seolah tak terlihat
Sebuah survei nasional pada 2022 (I-NAMHS) menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia, sekitar 15,5 juta orang, memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Perlu dicatat, survei ini membedakan “masalah” dari “gangguan”: sekitar 5,5 persen remaja, setara 2,45 juta orang, mengalami gangguan mental. Pada kelompok yang lebih luas, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa prevalensi depresi paling tinggi ditemukan pada anak muda usia 15-24 tahun dan lansia. Jadi yang paling rentan justru generasi yang sedang dipersiapkan memimpin masa depan. Namun karena penderitaan itu berlangsung di dalam kepala dan dada, tanpa gips atau hasil rontgen, ia mudah diremehkan oleh mereka yang tidak mengalaminya. Padahal otak adalah organ tubuh, dan gangguan pada cara kerjanya sama nyatanya dengan gangguan organ lain.
Yang sakit banyak, yang berobat sedikit
Data berikut mungkin paling mengiris. Dari remaja yang bermasalah secara mental, hanya 2,6 persen yang pernah mengakses layanan kesehatan jiwa. Pada orang dewasa pun polanya mirip: SKI 2023 menunjukkan hanya 12,7 persen penyintas depresi berusia di atas 15 tahun yang berobat dalam dua minggu terakhir, dan pada anak muda angkanya lebih rendah lagi, yakni 10,4 persen. Artinya, sembilan dari sepuluh anak muda yang depresi menjalaninya sendirian. Ini bukan semata soal kemalasan atau ketidakpedulian. Kementerian Kesehatan sendiri menyebut rendahnya literasi kesehatan jiwa, keterbatasan akses layanan, serta stigma dan diskriminasi sebagai faktor risiko utamanya.
Stigma yang diwariskan
Di banyak masyarakat, termasuk Indonesia, gangguan jiwa lama diasosiasikan dengan hal-hal ekstrem: “orang gila,” kerasukan, atau kutukan. Akibatnya, orang dengan masalah mental ringan hingga sedang takut diberi label serupa. Mereka memilih diam dan menyembunyikan gejala. Bahkan saat berusaha menolong diri sendiri, remaja lebih sering memilih cara informal; hanya sebagian kecil yang mencari konseling, sementara sebagian besar memilih melakukan hal yang menyenangkan, meditasi, atau berdoa. Cara-cara itu tidak salah, tetapi tidak cukup bila yang dihadapi sudah berupa gangguan. Rasa malu lebih kuat daripada keinginan untuk sembuh, dan persoalan yang sebenarnya bisa ditangani lebih awal berubah menjadi krisis.
Budaya “kuat” dan produktivitas
Kita hidup dalam budaya yang memuja ketangguhan dan produktivitas. Lelah dianggap kelemahan, istirahat dianggap kemalasan. Padahal Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa beban pekerjaan dapat memengaruhi kesehatan mental, terlebih bila ada pelecehan, diskriminasi, dan perundungan, dan ujungnya adalah penurunan produktivitas. Menyepelekan kesehatan mental atas nama produktivitas justru merusak produktivitas itu sendiri. Burnout bukan tanda kegagalan pribadi, melainkan sinyal bahwa batas manusia telah dilampaui.
Pemahaman yang keliru tentang agama dan syukur
Rasa syukur dan keimanan memang bisa menjadi sumber kekuatan. Namun menjadikannya satu-satunya penjelasan, atau menyalahkan penderitaan seseorang pada kurangnya iman, adalah kekeliruan yang menyakitkan. Orang yang rajin beribadah pun bisa mengalami depresi, sama seperti orang yang rajin berolahraga pun bisa terkena penyakit. Menyarankan orang yang sakit untuk “hanya berdoa” tanpa mendorongnya mencari pertolongan profesional sama saja dengan menunda penyembuhan. Doa dan pertolongan profesional tidak perlu dipertentangkan; keduanya bisa berjalan beriringan.
Akses yang timpang
Sikap meremehkan juga diperparah oleh keterbatasan layanan. Menurut Kementerian Kesehatan, rasio psikiater di Indonesia sekitar 1:200.000 penduduk, jauh dari standar WHO yaitu 1:30.000, dan sebarannya pun belum merata. Sebuah paparan akademisi di Universitas Indonesia pada 2024 menyebut jumlah psikiater sekitar 1.053 orang dan psikolog klinis 2.917 orang, sangat jauh dari jumlah ideal untuk negeri sebesar ini. (Angka tenaga profesional berbeda-beda antarsumber dan tahun, tetapi gambaran besarnya konsisten: kekurangan serius.) Ditambah biaya konsultasi yang bagi banyak orang masih mahal, wajar jika kesehatan mental terasa seperti kemewahan, bukan kebutuhan dasar.
Harga dari sikap abai
Mengabaikan kesehatan mental bukan tanpa konsekuensi. Ia memengaruhi hubungan keluarga, prestasi belajar, produktivitas kerja, bahkan kesehatan fisik. Dalam kasus terburuk, ia berujung pada hilangnya nyawa. Setiap kali itu terjadi, hampir selalu ada orang di sekitarnya yang berkata, “Kami tidak menyangka, dia terlihat baik-baik saja.” Justru karena luka itu tak terlihat, kita perlu belajar mendengar, bukan hanya melihat.
Apa yang bisa kita ubah
Pertama, ubah cara kita merespons. Ketika seseorang bercerita tentang kesulitannya, dengarkan tanpa menghakimi dan tanpa buru-buru menasihati. Kalimat seperti “Aku di sini, ceritakan saja” sering lebih berarti daripada seribu motivasi. Kedua, normalisasikan mencari bantuan profesional, sama biasanya dengan pergi ke dokter saat demam. Ketiga, sekolah, kampus, dan perusahaan perlu menyediakan ruang aman, layanan konseling, dan kebijakan yang manusiawi; survei remaja yang sama mencatat bahwa kebanyakan pengasuh lebih memilih layanan kesehatan mental melalui sekolah, sehingga sekolah adalah pintu masuk yang realistis. Keempat, negara perlu memperluas layanan kesehatan jiwa yang terjangkau hingga ke daerah, termasuk di tingkat puskesmas.
Penutup
Kesehatan mental bukan tentang menjadi lemah atau manja. Ia adalah tentang menjadi manusia yang utuh. Selama sembilan dari sepuluh anak muda yang depresi tidak tersentuh pengobatan, dan selama kita masih menertawakan atau menutup mata terhadap luka yang tak terlihat, kita sedang membiarkan banyak orang berjuang sendirian dalam diam. Sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Apa masalahmu sampai begitu?” dan mulai bertanya, “Bagaimana kabarmu yang sebenarnya?”




