MEDAN, 24 Oktober 2026 — Program Duta HAM Indonesia resmi diluncurkan di Aula Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., yang akrab disapa Romo Syafi’i, serta Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.Ag., Staf Ahli Menteri Hak Asasi Manusia Bidang Penguatan Reformasi Birokrasi dan Legislasi, yang hadir mewakili Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Peluncuran Duta HAM Indonesia menjadi langkah untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam memperkuat edukasi, kesadaran, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Program ini diinisiasi sebagai ruang partisipasi pemuda untuk mengembangkan pemahaman HAM sekaligus mendorong penerapan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kehadiran unsur pemerintah dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara generasi muda, perguruan tinggi, dan lembaga negara dalam membangun budaya penghormatan terhadap HAM. Melalui program ini, generasi muda diharapkan tidak hanya memahami HAM secara konseptual, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Salah satu rangkaian utama kegiatan adalah prosesi penyematan salempang Duta HAM Indonesia oleh Wakil Menteri Agama RI, Romo Syafi’i, bersama Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.Ag., yang mewakili Kementerian HAM RI. Penyematan dilakukan kepada perwakilan Duta HAM Indonesia sebagai simbol pemberian amanah dan dimulainya peran generasi muda dalam memperluas edukasi serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Prosesi tersebut sekaligus menjadi simbol kolaborasi antara unsur keagamaan dan kelembagaan HAM dalam mendorong keterlibatan generasi muda untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat. Para Duta HAM Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi representasi gerakan kepemudaan, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menyebarluaskan pemahaman HAM, menumbuhkan sikap saling menghormati, serta mendorong terciptanya kehidupan sosial yang adil dan bermartabat.
Dalam konteks penguatan nilai kemanusiaan, keterlibatan generasi muda menjadi penting untuk membangun hubungan antara nilai-nilai keagamaan, pembentukan karakter, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Agama dan nilai kemanusiaan memiliki ruang penting dalam membangun kehidupan sosial yang menjunjung tinggi martabat manusia, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan sikap saling menghormati.
Wakil Menteri Agama RI, Romo Syafi’i, diharapkan menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam rancangan pernyataan untuk pemberitaan, ia menegaskan bahwa penghormatan terhadap sesama manusia merupakan bagian penting dari kehidupan beragama dan bermasyarakat.
“Agama mengajarkan kita untuk menghormati sesama manusia, menjaga martabat kemanusiaan, serta membangun kehidupan yang adil dan harmonis. Karena itu, generasi muda memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan menghadirkan sikap saling menghormati di tengah masyarakat.”
Penguatan nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk menghargai perbedaan, menolak diskriminasi, dan membangun hubungan sosial yang adil serta inklusif. Melalui Duta HAM Indonesia, generasi muda diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan inisiatif edukasi yang mampu menjangkau lingkungan kampus, komunitas kepemudaan, dan masyarakat luas.
Sementara itu, Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.Ag., Staf Ahli Menteri HAM Bidang Penguatan Reformasi Birokrasi dan Legislasi, hadir mewakili Kementerian HAM RI dalam peluncuran Duta HAM Indonesia. Kehadirannya menjadi bagian dari momentum untuk memperkuat perhatian terhadap edukasi HAM dan partisipasi generasi muda dalam mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dalam rancangan pernyataan untuk pemberitaan, Prof. Rumadi menekankan bahwa pemajuan HAM membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda. Edukasi dan penyebarluasan pemahaman HAM perlu dikembangkan agar prinsip-prinsip penghormatan terhadap martabat manusia dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pemajuan hak asasi manusia membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda. Anak-anak muda memiliki ruang untuk berkontribusi melalui pendidikan, penyebarluasan informasi, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Penting memastikan bahwa pemahaman HAM tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan tindakan.”
Melalui peran para duta, edukasi HAM diharapkan dapat menjangkau lingkungan kampus, komunitas kepemudaan, ruang digital, dan masyarakat luas. Pendekatan yang komunikatif dan inklusif menjadi penting agar pemahaman mengenai hak, kewajiban, kesetaraan, dan penghormatan terhadap sesama dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Inisiator Duta HAM Indonesia, Hidayatul Fikri, menyampaikan bahwa program ini lahir dari gagasan untuk membangun gerakan generasi muda yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian dari kesadaran kolektif. Menurutnya, HAM tidak semestinya hanya menjadi pembahasan di ruang akademik, dokumen kebijakan, atau forum formal, tetapi harus hidup dalam cara berpikir, sikap, dan tindakan generasi muda ketika merespons berbagai persoalan sosial.
“Kami ingin menjadikan HAM sebagai *zeitgeist* atau semangat zaman generasi muda Indonesia. Artinya, penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, kesetaraan, dan kebebasan yang bertanggung jawab harus menjadi kesadaran yang hidup dalam cara berpikir dan bertindak. Duta HAM Indonesia kami gagas sebagai ruang untuk membangun kesadaran tersebut sekaligus mendorong generasi muda mengambil peran nyata dalam pemajuan HAM,” ujar Hidayatul dalam rancangan pernyataan untuk publikasi.
Hidayatul menegaskan bahwa peluncuran Duta HAM Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk membangun gerakan yang memiliki arah, agenda, dan keberlanjutan. Baginya, keberadaan seorang duta harus dibuktikan melalui kontribusi nyata, bukan sekadar gelar atau atribut kelembagaan.
“Bagi kami, keberhasilan Duta HAM bukan diukur dari berapa banyak orang yang menyandang gelar duta, melainkan dari seberapa jauh nilai-nilai HAM dipahami, diperjuangkan, dan diwujudkan dalam kehidupan masyarakat. Kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya berbicara tentang kemanusiaan, tetapi juga hadir ketika nilai-nilai kemanusiaan itu membutuhkan pembelaan,” lanjutnya.
Ia berharap Duta HAM Indonesia dapat membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, kementerian, organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat, dan berbagai pihak lainnya untuk memperluas jangkauan edukasi HAM di Indonesia. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, disertai kemampuan memahami persoalan secara kritis dan bertindak secara bertanggung jawab.
Inisiator Duta HAM Indonesia lainnya, M. Rizki Pirmansah, menegaskan bahwa program ini perlu diterjemahkan menjadi gerakan yang terarah dan berkelanjutan. Menurutnya, generasi muda memiliki posisi penting dalam menyampaikan edukasi HAM dengan pendekatan yang relevan terhadap perkembangan zaman.
“Duta HAM Indonesia harus menjadi gerakan yang hidup, bukan sekadar identitas atau simbol. Kami ingin para duta hadir di tengah masyarakat, membangun ruang edukasi, memperkuat kesadaran tentang hak dan kewajiban, serta mendorong penyelesaian persoalan sosial dengan pendekatan yang menghormati martabat manusia,” ujar M. Rizki dalam rancangan pernyataan untuk publikasi.
Ia menilai bahwa tantangan pemajuan HAM pada masa kini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap aturan dan kebijakan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan, ruang digital, dan interaksi sosial. Karena itu, edukasi HAM perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa menghilangkan substansi dan prinsip-prinsip dasarnya.
“Generasi muda harus menjadi bagian dari solusi. Melalui Duta HAM Indonesia, kami ingin membangun anak-anak muda yang memiliki pengetahuan, kepekaan sosial, dan keberanian untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan secara bertanggung jawab. Gerakan ini harus terbuka untuk kolaborasi dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Peluncuran Duta HAM Indonesia di Aula Rektorat UIN Sumatera Utara menjadi momentum untuk mempertemukan semangat kepemudaan, pendidikan, dan pemajuan hak asasi manusia dalam satu gerakan. Ke depan, program ini diharapkan dapat berkontribusi melalui kegiatan edukasi, diskusi publik, kampanye kesadaran HAM, penguatan literasi digital, serta berbagai inisiatif sosial yang mendorong penghormatan terhadap hak dan martabat manusia.
Lebih dari sekadar program kepemudaan, Duta HAM Indonesia diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa penghormatan terhadap HAM merupakan tanggung jawab bersama. Negara, institusi pendidikan, organisasi masyarakat, dan generasi muda memiliki ruang kontribusi masing-masing dalam memastikan nilai-nilai kemanusiaan hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui semangat kolaborasi dan partisipasi generasi muda, Duta HAM Indonesia diharapkan berkembang menjadi gerakan yang konsisten dalam menumbuhkan kesadaran kritis, memperkuat solidaritas sosial, serta menjadikan penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagai bagian penting dari karakter generasi muda Indonesia.

